Masjid Kajen tampak dari atas. Foto: Ist
___________
oleh Zainal Abidin*
Kita
membaca tulisan ini di tengah maraknya isu nasional yang katanya Kemendikbud
hendak menjadikan sejarah sebatas pelajaran pilihan belaka. Meski sudah
ditampik oleh Nadiem Makarim, nampaknya kita perlu membaca pendapat salah
seorang tokoh yang merespon ke-viral-an ini.
Peter
Carey Sejarawan asal Oxford yang menelusuri perjalanan hidup Pangeran
Diponegoro menyebut, jika kita mengenal sejarah bangsa maka kita mengetahui
siapa diri kita dan ke mana arah tujuan hidup selanjutnya. Sementara jika
melupakan sejarah, kita tidak tahu siapa diri kita dan bersiap-siaplah bangsa
ini akan diatur orang lain dan kita hanya menjadi tangan kedua.
Tentu
ungkapan ini pun berlaku pada konteks yang lebih fokus, yakni Kajen. Kajen
merupakan salah satu desa yang populer di Pati. Kepopuleran ini tentu tidak
hanya di telinga masyarakat sekitar, bahkan mesin penelusuran seperti google
pun mengakui kepopuleran itu. Mengetik kata Kajen, sudah pasti akan muncul di
sana.
Setidaknya
ada dua kata kunci yang membuat kepopuleran Kajen tetap terjaga, yaitu Syekh
Ahmad Mutamakkin dan Pesantren. Syekh Ahmad Mutamakkin layaknya mafhum dikenal,
merupakan ulama yang hidup pada abad ke delapan belas, hidup di masa Amangkurat
IV sampai Pakubuwana II yang mengajarkan Islam di Kajen dan sekitarnya.
Kepopuleran
Syekh Ahmad Mutamakkin dahulu kala diungkap melalui teks Serat Cebolek dengan
menyebut sebagai ulama yang kontroversial. Namun nyatanya, penyebutan
itu bertolak belakang dari pemahaman masyarakat Kajen yang menyebut Syekh Ahmad
Mutamakkin sebagai ulama yang berani menentang kejahilan.
Kemudian,
kata kunci yang kedua terkait pesantren yang ada di Kajen. Pesantren-pesantren
yang ada di Kajen merupakan Lembaga yang didirikan oleh dzuriyah Syekh Ahmad
Mutamakkin. Laksana Penerus, pesantren di Kajen pun selalu melahirkan ulama
yang berperan aktif di tengah masyarakat.
Dari
penyebutan dua kata kunci tadi, sebenarnya terdapat dua konteks yang berbeda.
Ketika kita berbicara mengenai Syekh Ahmad Mutamakkin, tentu kita akan mengurai
tentang ajaran-ajarannya, sejarahnya, pusaka peninggalannya dan lain
sebagainya. Sementara jika berbicara dengan kata kunci pesantren, berarti
berbicara tentang dinamika kepesantrenan dari awal adanya pesantren di kajen sampai
perkembangannya seakarang. Dari uraian ini sebenarnya kita sedang melihat Kajen
sebagai masa lalu dan masa kini.
Perihal
masa lalu, kita semua sepakat bahwa Kajen adalah pusat peradaban. Peranan Syekh
Ahmad Mutamakkin terbukti atas pemahaman tasawuf yang banyak dipahami para
pengikutnya, kemudian penafsiran atas epos Bima Suci pun terus didengungkan
hingga saat ini. Terlebih, tradisi haul tiap Suro mengingatkan kita bahwa masa
lalu Kajen adalah masa emas yang berpengaruh luar biasa.
Lantas
bagaimana dengan masa kini? Kajen kini dikendalikan oleh pesantren, sebagai
sebuah institusi dan sebagai laboratorium sosial kemasyarakatan. Perlu kita
lihat kembali bahwa unsur pesantren terdiri dari kiai, masjid, kitab, santri
dan asrama. Lima unsur inilah yang sebenarnya menjawab kondisi masa kini Kajen.
Kiai,
Masjid, Kitab, Santri dan Asrama di Kajen
Perihal kiai, desa Kajen melahirkan banyak sekali tokoh yang menyadarkan masyarakat dan
menggerakkan bangsa. Misalnya, nama besar KH. Abdullah Salam sangat akrab di
telinga, bahwa beliau menyebarkan amalan tasawuf yang kinasih dan menyamudera.
Begitu pun KH. Sahal Mahfudz yang membabad rimbunnya paham fiqih yang terlalu saklek
dengan paham fiqih sosialnya. Itu semua merubah paradigma dan dialektika
masyarakat Islam Indonesia.
Banyaknya
pesantren di Kajen menunjukkan estafet kepemimpinan kiai semakin merata. Tentu
setiap lembaga memiliki kurikulum dan kekhasan yang berbeda sesuai harapan dan
cita-cita masing-masing kiai sebagai jantungnya pesantren. Sebagaimana yang
kita ketahui, pesantren di Kajen mayoritas menerapkan metode salaf yang mana
kebijakan sang kiai menjadi cerminan pesantren yang dikelolanya.
Perihal
Masjid, di Kajen mencerminkan dua bangunan yang berbeda. Masjid Jami’ Kajen
peninggalan Syekh Ahmad Mutamakkin dan masjid-masjid (mushola) yang ada di tiap
pesantren. Tentu fungsinya pun berbeda, Masjid Jami’ Kajen sebagai sentra
ibadah warga sekitar dan santri saat-saat tertentu, seperti Jumatan atau ibadah
lainnya. Sementara masjid pesantren menjadi sentra pendidikan santri.
Unsur
selanjutnya adalah kitab. Kitab di sini pun tidak hanya dimaknai sebagai kitab
kurikulum pendidikan belaka. Melainkan juga turats yang dianggit para
kiai yang ada di Kajen. Unsur berikutnya adalah Santri. Santri di Kajen hingga
saat ini pun berdatangan dari berbagai daerah, ini menunjukkan kepercayaan
masyarakat akan pendidikan di Kajen masih tinggi. Selain itu definisi santri
pun luas, tidak hanya terbatas pada peserta didik yang belajar di bangku
madrasah/pesantren melainkan juga alumni-alumninya.
Unsur
terakhir yakni asrama. Asrama
sesungguhnya adalah bangunan fisik yang memiliki bilik kamar untuk tempat
tinggal santri. Namun, di Kajen nampaknya asrama ini tidak terbatas pada
bangunan yang ada di pesantren belaka, pasalnya warga lokal pun turut ikut
mengaji di pesantren.
Tentu
dalam tulisan ini kita tidak sedang membahas pesantren secara parsial, namun
melihat pesantren sebagai kesatuan utuh yang saling terjalin satu sama lain.
Kiai, masjid, kitab, santri dan asrama di Kajen ini lah yang mencerminkan Kajen
masa kini.
Kajen
Masa Kini
Sinergitas
pesantren di Kajen terlihat semakin nyata. Kini ada Forum Komunikasi Pengasuh
Pesantren se-Kajen. Di berbagai kesempatan, kita yang ada di luar Kajen pun
sering mendapatkan informasi dan perkembangan Kajen secara digital. Dunia
sosmed mendekatkan kita pada Kajen kembali. Akun pesantren, madrasah, dan
beberapa akun Kajen lainnya, seperti Jelajah Pusaka Kajen, Perpustakaan
Mutamakkin, dan Islamic Center Kajen tampil di depan sebagai gambaran Kajen
saat ini.
Tentu
kita juga tak bisa menafikan perkembangan yang tak tersorot oleh media. Kita
pun tahu bahwa Kajen dan seluruh dinamikanya selalu diikuti oleh beberapa
peneliti. Sebagai salah satu daerah sentra peradaban, maka merawatnya adalah
sebuah keniscayaan. Kabar-kabar tentang perpustakaan, museum, pengumpulan
naskah-naskah Kajen, dan forum lainnya mengekspresikan bahwa kaum sarungan
Kajen sangat sadar akan khazanah leluhurnya.
Tak
hanya itu, peran pesantren Kajen hingga saat ini tetaplah autentik. Sebagai
institusi pendidikan, Pesantren selalu mencetak santri yang unggul. Sebagai
laboratorium sosial kemasyarakatan, pesantren adaptif pada dinamika yang ada
dan tentu bersedia untuk menjawabnya.
Dari
uraian di atas, nampaknya adagium siapapun yang mengetahui sejarahnya, maka
akan tahu masa depannya, dipraktekkan betul oleh masyarakat Kajen. Semoga!!
*Alumnus
Pesantren Salafiyah Kajen, alumnus
UIN Jakarta, aktif menulis khazanah
mushaf dan tradisi Islam di Nusantara

