Lanskap Peradaban Kajen

Jumat, 26 Maret 2021


 

Masjid Kajen tampak dari atas. Foto: Ist

___________

oleh Zainal Abidin*

Kita membaca tulisan ini di tengah maraknya isu nasional yang katanya Kemendikbud hendak menjadikan sejarah sebatas pelajaran pilihan belaka. Meski sudah ditampik oleh Nadiem Makarim, nampaknya kita perlu membaca pendapat salah seorang tokoh yang merespon ke-viral-an ini.

Peter Carey Sejarawan asal Oxford yang menelusuri perjalanan hidup Pangeran Diponegoro menyebut, jika kita mengenal sejarah bangsa maka kita mengetahui siapa diri kita dan ke mana arah tujuan hidup selanjutnya. Sementara jika melupakan sejarah, kita tidak tahu siapa diri kita dan bersiap-siaplah bangsa ini akan diatur orang lain dan kita hanya menjadi tangan kedua.

Tentu ungkapan ini pun berlaku pada konteks yang lebih fokus, yakni Kajen. Kajen merupakan salah satu desa yang populer di Pati. Kepopuleran ini tentu tidak hanya di telinga masyarakat sekitar, bahkan mesin penelusuran seperti google pun mengakui kepopuleran itu. Mengetik kata Kajen, sudah pasti akan muncul di sana.

Setidaknya ada dua kata kunci yang membuat kepopuleran Kajen tetap terjaga, yaitu Syekh Ahmad Mutamakkin dan Pesantren. Syekh Ahmad Mutamakkin layaknya mafhum dikenal, merupakan ulama yang hidup pada abad ke delapan belas, hidup di masa Amangkurat IV sampai Pakubuwana II yang mengajarkan Islam di Kajen dan sekitarnya.

Kepopuleran Syekh Ahmad Mutamakkin dahulu kala diungkap melalui teks Serat Cebolek dengan menyebut sebagai ulama yang kontroversial. Namun nyatanya, penyebutan itu bertolak belakang dari pemahaman masyarakat Kajen yang menyebut Syekh Ahmad Mutamakkin sebagai ulama yang berani menentang kejahilan.

Kemudian, kata kunci yang kedua terkait pesantren yang ada di Kajen. Pesantren-pesantren yang ada di Kajen merupakan Lembaga yang didirikan oleh dzuriyah Syekh Ahmad Mutamakkin. Laksana Penerus, pesantren di Kajen pun selalu melahirkan ulama yang berperan aktif di tengah masyarakat. 

Dari penyebutan dua kata kunci tadi, sebenarnya terdapat dua konteks yang berbeda. Ketika kita berbicara mengenai Syekh Ahmad Mutamakkin, tentu kita akan mengurai tentang ajaran-ajarannya, sejarahnya, pusaka peninggalannya dan lain sebagainya. Sementara jika berbicara dengan kata kunci pesantren, berarti berbicara tentang dinamika kepesantrenan dari awal adanya pesantren di kajen sampai perkembangannya seakarang. Dari uraian ini sebenarnya kita sedang melihat Kajen sebagai masa lalu dan masa kini.

Perihal masa lalu, kita semua sepakat bahwa Kajen adalah pusat peradaban. Peranan Syekh Ahmad Mutamakkin terbukti atas pemahaman tasawuf yang banyak dipahami para pengikutnya, kemudian penafsiran atas epos Bima Suci pun terus didengungkan hingga saat ini. Terlebih, tradisi haul tiap Suro mengingatkan kita bahwa masa lalu Kajen adalah masa emas yang berpengaruh luar biasa.

Lantas bagaimana dengan masa kini? Kajen kini dikendalikan oleh pesantren, sebagai sebuah institusi dan sebagai laboratorium sosial kemasyarakatan. Perlu kita lihat kembali bahwa unsur pesantren terdiri dari kiai, masjid, kitab, santri dan asrama. Lima unsur inilah yang sebenarnya menjawab kondisi masa kini Kajen.

Kiai, Masjid, Kitab, Santri dan Asrama di Kajen

Perihal kiai, desa Kajen melahirkan banyak sekali tokoh yang menyadarkan masyarakat dan menggerakkan bangsa. Misalnya, nama besar KH. Abdullah Salam sangat akrab di telinga, bahwa beliau menyebarkan amalan tasawuf yang kinasih dan menyamudera. Begitu pun KH. Sahal Mahfudz yang membabad rimbunnya paham fiqih yang terlalu saklek dengan paham fiqih sosialnya. Itu semua merubah paradigma dan dialektika masyarakat Islam Indonesia.

Banyaknya pesantren di Kajen menunjukkan estafet kepemimpinan kiai semakin merata. Tentu setiap lembaga memiliki kurikulum dan kekhasan yang berbeda sesuai harapan dan cita-cita masing-masing kiai sebagai jantungnya pesantren. Sebagaimana yang kita ketahui, pesantren di Kajen mayoritas menerapkan metode salaf yang mana kebijakan sang kiai menjadi cerminan pesantren yang dikelolanya. 

Perihal Masjid, di Kajen mencerminkan dua bangunan yang berbeda. Masjid Jami’ Kajen peninggalan Syekh Ahmad Mutamakkin dan masjid-masjid (mushola) yang ada di tiap pesantren. Tentu fungsinya pun berbeda, Masjid Jami’ Kajen sebagai sentra ibadah warga sekitar dan santri saat-saat tertentu, seperti Jumatan atau ibadah lainnya. Sementara masjid pesantren menjadi sentra pendidikan santri.

Unsur selanjutnya adalah kitab. Kitab di sini pun tidak hanya dimaknai sebagai kitab kurikulum pendidikan belaka. Melainkan juga turats yang dianggit para kiai yang ada di Kajen. Unsur berikutnya adalah Santri. Santri di Kajen hingga saat ini pun berdatangan dari berbagai daerah, ini menunjukkan kepercayaan masyarakat akan pendidikan di Kajen masih tinggi. Selain itu definisi santri pun luas, tidak hanya terbatas pada peserta didik yang belajar di bangku madrasah/pesantren melainkan juga alumni-alumninya.

Unsur terakhir yakni asrama.  Asrama sesungguhnya adalah bangunan fisik yang memiliki bilik kamar untuk tempat tinggal santri. Namun, di Kajen nampaknya asrama ini tidak terbatas pada bangunan yang ada di pesantren belaka, pasalnya warga lokal pun turut ikut mengaji di pesantren. 

Tentu dalam tulisan ini kita tidak sedang membahas pesantren secara parsial, namun melihat pesantren sebagai kesatuan utuh yang saling terjalin satu sama lain. Kiai, masjid, kitab, santri dan asrama di Kajen ini lah yang mencerminkan Kajen masa kini.

Kajen Masa Kini

Sinergitas pesantren di Kajen terlihat semakin nyata. Kini ada Forum Komunikasi Pengasuh Pesantren se-Kajen. Di berbagai kesempatan, kita yang ada di luar Kajen pun sering mendapatkan informasi dan perkembangan Kajen secara digital. Dunia sosmed mendekatkan kita pada Kajen kembali. Akun pesantren, madrasah, dan beberapa akun Kajen lainnya, seperti Jelajah Pusaka Kajen, Perpustakaan Mutamakkin, dan Islamic Center Kajen tampil di depan sebagai gambaran Kajen saat ini.

Tentu kita juga tak bisa menafikan perkembangan yang tak tersorot oleh media. Kita pun tahu bahwa Kajen dan seluruh dinamikanya selalu diikuti oleh beberapa peneliti. Sebagai salah satu daerah sentra peradaban, maka merawatnya adalah sebuah keniscayaan. Kabar-kabar tentang perpustakaan, museum, pengumpulan naskah-naskah Kajen, dan forum lainnya mengekspresikan bahwa kaum sarungan Kajen sangat sadar akan khazanah leluhurnya.

Tak hanya itu, peran pesantren Kajen hingga saat ini tetaplah autentik. Sebagai institusi pendidikan, Pesantren selalu mencetak santri yang unggul. Sebagai laboratorium sosial kemasyarakatan, pesantren adaptif pada dinamika yang ada dan tentu bersedia untuk menjawabnya.

Dari uraian di atas, nampaknya adagium siapapun yang mengetahui sejarahnya, maka akan tahu masa depannya, dipraktekkan betul oleh masyarakat Kajen. Semoga!!

 

*Alumnus Pesantren Salafiyah Kajen, alumnus UIN Jakarta, aktif menulis  khazanah mushaf  dan tradisi Islam di Nusantara

 

 

0 Viewers